Yaa Allah, Aku Ingin Menikah
Ngebet
Nikah, eits mungkin di antara kalian terutama kita para akhwat agak sensitif
jika dicap atau dilabeli dengan kalimat ‘Ngebet Nikah’. Iya kan, Dear ?
termasuk aku sendiri pun kurang suka hehe.. Tapi pada kenyataannya di era
sekarang ini banyak orang yang kebanyakan itu akhwat terbawa perasaan ketika
melihat prosesi pernikahan di dunia nyata mau pun di dunia maya. Entah itu
perasaan iri karena dia belum menikah atau karena ikhwan yang selama ini
diidam-idamkan telah menikah dengan akhwat lain atau mungkin sebaliknya.
Seperti kemarin pada tanggal 7 Juli 2017 Hari Pernikahan Muzammil Hasballah
dengan Sonia Ristanti dan tanggal 16 September 2017 kemarin digelarnya
pernikahan Taqy Malik dan Salma, banyak banget para akhwat yang mengaku patah
hati atau mungkin patah tulang, Tapi semoga tidak ya, dear. Kalau sampai patah
tulang karena frustasi sampai menceburkan diri ke jurang, hehe. Terus apa yang
perlu kita lakukan nih, dear ?. Jika ada teman kita atau saudara kita menikah,
ya kita harus bersikap biasa saja tentunya, justru seharusnya kita harus
berbahagia karena melihat sepasang hamba Allah yang telah menikah karena
menikah itu merupakan salah satu tameng dari tergelincirnya diri kita ke dalam
zina. Berapa ribu remaja di Indonesia yang melahirkan tanpa adanya ikatan
pernikahan ? wah, banyak banget tentunya, ya Dear. Oke mungkin kita akan bahas
masalah pacaran di postingan selanjutnya. Tapi di postinganku ini, aku bakal
sharing ilmu atau mungkin pengalaman pribadiku yang berkaitan dengan menikah,
meslipun aku sendiri belum menikah, ya Dear. Tapi semoga temen-temen shaliha,
di sini bisa mengambil hikmah dari pengalaman pribadiku ini.
Keadaan
setiap manusia baik laki-laki atau perempuan dalam keinginan untuk menikah
memang berbeda-beda, ada yang baru berusia 17 tahun sudah ingin menikah, ada
juga yang sudah 25 tahun ke atas justru belum terfikir untuk menikah. Perlu
kita ketahui Allah memberi akal pikiran dan juga nafsu pada setiap
hamba-Nya. Ada banyak hukum menikah ya, Dear. Ada yang berhukum wajib, sunnah,
mubah, makruh, bahkan haram pun ada yaitu karena disesuaikan dari kondisi
tiap pribadi masing-masing manusia. Tapi kali ini kita akan
membahas menikah yang disunnahkan yang sesuai dengan ajaran Rasulullah
Shalallahu ‘alaihiwassalam. Alhamdulillah, di tahun 2017 ini banyak
pemuda/pemudi yang berkeinginan untuk menikah dilihat dari komentar atau
postingan di media sosial seperti Instagram atau pun Facebook. Termasuk
aku juga pernah merasakan gejolak atau rasa ingin menikah di usia muda ini. Di
semester dua aku kuliah mulailah keinginan untuk menikah itu muncul sampai
dengan semester empat aku kuliah, aku baru sadar bahwa kuliah sambil
menikah tidak seindah seperti yang aku bayangin selama ini, hehe. Kesadaranku
dimulai dari mendapat wejangan dari murabbiku kala itu. Dari sekian
banyak CV yang aku baca selama proses ta’aruf belum ada ikhwan yang pas di
hati. Bukan makzud sok jual mahal ya, Dear. Tapi kita harus selektif dalam
memilih pasangan hidup, karena dia (pasangan kita) yang akan menemani kita
sampai ajal menjemput. Tapi menemani di sini bukan hanya sekedar menemani ya,
Dear. Akan tetapi menemani dalam artian menyatukan visi dan misi hidup kita
dengan dia untuk tercapainya tujuan pernikahan yang sebenarnya yakni menggapai
Ridho Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bisa tinggal di Surga-Nya bersama
keluarga besar kita dan Rasulullah beserta para sahabatnya, Masyaa Allah indah
kan Dear ?..
Hingga
saatnya di semester 5 ini aku berta’aruf dengan seorang ikhwan yang
membuatku tertarik setelah membaca Cv milikmnya. namun dalam hati kecilku
berkata kalau dia terlalu baik buat aku. Karena dalam Islam sendiri diajarkan
tentang sekufu yaitu kesepadanan antara pihak calon suami dan calon istri, dari
segi agama, keuangan, dakwah, dan masih banyak lagi. Saat itu aku berusaha
untuk bicara baik-baik pada ikhwan tersebut jika ada dua hal kriterianya yang
tidak ada dalam diriku. Yang pertama orang tuaku masih awam atau masih belum
mengaplikasikan sunnah Rasul secara kaffah dan menjalankan perintah Allah
dengan baik. Yang kedua karena mataku ini minus (berkacamata, tapi dia tidak
merasa keberatan karena dia ingin tetap meminta Cvku. Karena aku tidak mau
berlama-lama saling berbalas pesan dengan dia, aku meminta tolong kepada
Murabbiku sekaligus beliau adalah Ustdzh yang dulu pernah mengajar di pondokku.
Sungguh saat itu aku seperti sedang bermimpi karena bisa membaca CV yang sesui
dengan kriteria calon imamku nanti, bahkan di luar kriteriaku. Dia adalah
Mahasiswa S-2 Bahasa Arab yang tidak diragukan lagi kefasihannya dan
kelancarannya dalam berbahasa arab, karena sejak SMP dia tinggal di pondok
pesantren. Yang membuatku kaget lagi dia pernah menjuarai lomba Murotal se-kota
tempat ia tinggal. Setelah aku melihat dia di dalam foto, secara fisik juga
tidak kalah baiknya dengan prestasi yang dia dapat selama ini. Masyaa Allah,
aku bertanya-tanya apa rencana Allah selanjutnya “kenapa aku bisa bertemu dengan
dia, walau pada akhirnya aku dengan dia belum maju ke proses Nadzor ?”. dan
Subhanallah rasa kecewa di dalam hatiku saat itu berhari-hari aku rasakan.
Meski murobbiku sudah mengingatkanku, “ret, kalau ustdh jadi kamu, ustdh bakal
ngundurin diri dari proses ta’aruf ini”, Tapi aku tetap keukeh untuk
melanjutkan proses ta’aruf ini. Saat itu aku berusaha untuk biasa saja dalam
menyikapi permasalahan ini. Yang mungkin dirasa berlebihan dalam pandangan
seseorang yang belum merasakannya. Aku terus berdoa kepada Allah supaya aku
bisa menjadi muslimah yang benar-benar taat dan sabar dalam menyelesaikan
permasalahan dalam hidupku. Aku terus yakin bahwa Allah tidak mungkin
memberikan suatu kebahagiaan kepada hamba-Nya melainkan seblum diberikannya
ujian atau masalah dalam hidupnya.
Laa
haulaa walaa quwwata illabillah.. kalimat ini yang membuatku yakin dan lebih
kuat dalam menjalani hidup ini, Hasbiallah (cukup bagiku Allah). Di suatu
kesempatan saat aku mengikuti kajian yang ketika itu Ustadz Oemar Mitha, Lc
yang mengisi kajian tersebut. Beliau menyampaikan “jangan khawatir ketika antum
gagal berta’aruf dengan seseorang karena Insyaa Allah jika antum sabar, Allah
akan mempertemukan antum dengan seseorang yang lebih sholih dari seseorang yang
antum lewati”. Wah masyaa Allah kalimat ini membuat aku semakin yakin dengan
janji Allah, terus memperbaiki diri, terus mempercantik akhlak, dan
memperbanyak ilmu agama dengan rutin ikut kajian per pekan maupun liqo per
pekan. Yaa Rabb illahi robbi teguhkanlah diri ini di atas agama-Mu, doa inilah
yang aku panjatkan ketika aku mulai lelah dalam taat pada-Nya. Setelah
aku bisa melewati semua ini, Alhamdulillah Allah membukakan jalan yang lebih
baik dari pada mungkin jika menikah dengan ikhwan itu. Aku memutuskan untuk
berhijrah untuk memperbaiki diri dan mendapat Ridha Allah salah satunya adalah
dari yang sebelumnya mudah baper (terbawa perasaan) ke yang sekarang mencoba
untuk menjadi muslimah untuk yang tidak baper-an, Hehe.
Allah
menyuruh hamban-Nya (anak muda) untuk bersegera menikah Namun tidak
tergesa-gesa, ya, Dear. Jangan sampai rumah tangga kita nanti cepat roboh
ketika diterpa badai ujian dari Allah karena bekal kita belum cukup. Bekal apa
nih ?, jadi bekal di sini bukan hanya materi ya, Dear. Tapi ilmu agama atau
ilmu berumah tangga yang sesuai dengan Qur’an dan sabda Rasulullah Shalallahu
'Alaihi wassalam. Menikah bukan soal siapa cepat dia dapat, tapi menikah itu
harus diniatkan hanya karena Allah, bukan hanya karna Baper melihat teman-teman
kita yang lain banyak yang sudah menikah. Yakin ya, Dear, ketika Allah sudah
yakin dengan kita bahwa kita sudah pantas untuk menikah maka akan Alllah
hadirkan sosok ikhwan/akhwat yang kita idam-idamkan dalam kehidupan kita.
Intinya kita terus belajar dan belajar untuk menjadi sholih karena-Nya,
luruskan niat kita ya Dear. Karena tidak ada yang tahu siapa yang duluan
melamar kita, Ikhwan yang kita idamkan atau malaikat pencabut nyawa. kalau
Jodoh pasti bertamu ya, Dear hehe. Poin terakhir yang aku ingin
tekankan di sini adalah kita perlu belajar untuk yankin ke Allah. Hasbiallah
(cukup bagiku Allah) karena jika seseorang yang benar dalam dzikirnya maka dia
akan tenang hatinya setelah melafalkan Hasbillah.. namun pada kenyataannya,
ketika kita sedang ada masalah kita justru memilih jalan-jalan, nonton film,
bahkan mendengarkan musik yang justru membuat kita semakin larut dalam masalah
yang kita hadapi pada saat itu. Aku sendiri juga masih begitu, Dear. Mungkin
aku ketika sedang ada masalah sholat dan baca quran tapi tetap saja setelah itu
aku masih butuh jalan-jalan atau sekedar makan bareng temen. Nah, namanya ini
belum hasbiallah kalau kata Ustadz Hanan Attaqi, Lc ya Dear.. hasbillah yang
sebenarnya adalah seperti hasbiallah-nya Nabi Ibrahim AS yang ketika itu hendak
dibakar hidup-hidup oleh orang-orang kafir, yang ketika itu juga Malaikat
Jibril datang menawarkan bantuan untuk Nabi Ibrahim, tapi Masya Allah. Apa kata
Nabi Ibrahim? “tidak wahai jibril. Hasbiallah, cukup bagiku Allah, aku tidak
butuh apa pun selain Allah”.. jadi gitu ya dear, kita harus belajar
banyak yakin ke Allah, Yaa Dear Shaliha #SalamBuatSingelillah

Semangat ukhti..semoga Allah segera mempertemukan antum dengan jodohnya
BalasHapusaamiin yaa Rabbanaa, semoga antum juga ya ukht :)
Hapus